Meliuk-liuk Hingga Membentuk! Wisudaan di IKJ - Fakultas Film dan Televisi

7:12 AM
Pagi itu adalah hari yang sudah lama kami nantikan. Hari dimana saya akan di wisuda. target wisuda yang saya targetkan 2 tahun ini, ternyata melenceng sampai 4 tahun lamanya. bukan karena enggan menepati target, namun saya pikir masih belum cukup 'ilmu' ketika saya harus menyandang gelar sarjana seni (S.Sn.). dan tahun 2016 ini menjadikan wisuda saya yang kedua kalinya setelah sebelumnya mendapat gelar sebagai ahlimadya (AMd) dibidang komunikasi lulusan Akademi Komunikasi Indonesia (AKINDO) beberapa tahun silam. 


Institut Kesenian Jakarta
Wisuda FFTV IKJ



Tepat pukul 05:00 WIB saya dibangunkan oleh Ibu saya dari tempat tidur disebuah hotel sekitar Cikini Raya. Maklum saja, saya orang terakhir yang memejamkan mata setelah kakak dan ibu saya malam tadi. Saya  bergegas menuju kamar mandi dan melakukan ritual mandi pagi. Saat ini menjadi pagi yang cukup dingin, tapi saya justru melawannya dengan membasahi badan saya dengan air dingin. Menurut saya, cara itu cukup efektif membuat badan jadi lebih segar dan lebih berenergi. Tidak seperti biasanya memang, seorang mantan mahasiswa yang biasa tinggal disebuah kontrakan bimbang ini, hidup bersama sampah-sampah yang entah siapa yang membuang sampah tidak pada tempatnya. Mungkin saya juga termasuk, namun saya punya prinsip. “kalau malas bersih-bersih, minimal jangan buang sampah sembarangan” tapi tinggal di kontrakan yang diberi nama “Kontrakan Bimbang” tidak bertahan lama, hanya sekitar 2-3tahun. Kami hidup bersama dalam kontrakan bimbang yang busuk. Atap yang bolong karena gentengnya bocor, lantai yang dilapisi karpet permanen tidak pernah di cuci hanya dibersihkan menggunakan sapu lidi, dan kamar mandi yang jorok dan licin. Kontrakan ini semakin tidak terawat dan tidak terkontrol ketika dijadikan tempat transit mahasiswa-mahasiswa, kadang juga jadi ajang tempat menginap orang-orang yang mabuk berat dari kampus sehingga nggak bisa pulang ke rumah, ada juga yang mampir karena kosan mereka yang sudah dikunci pemiliknya akibat lewat jam malam, ada juga yang sekedar mampir sekaligus menyumbang sampah di kontrakan. Dalam hal apapun itu, pastilah ada sisi hitam putihnya tanpa terkecuali kontrakan bimbang, yang memiliki sisi positif yang bermanfaat bagi kami para penghuni dan juga para ‘pengunjung’. Kontrakan bimbang menjadi sebuah wadah kreativitas teman-teman yang ingin berkreasi, bagaimana tidak, lantai 1 dari kontrakan bimbang biasanya digunakan teman-teman mahasiswa yang katanya mahasiswa perfilman untuk workshop ketika membuat tugas kampus. Biasanya ketika akan syuting, mereka (terutama tim artistik) membuat berbagai macam property untuk keperluan syuting. Ada juga ruangan kamar yang disulap menjadi ruangan studio untuk perekaman suara, biasanya untuk proses ADR, Genteng kontrakan yang disulap menjadi kolam ikan lele yang dilapisi dengan terpal walau pada akhirnya semua ikan mati karena kepanasan, belum lagi kontrakan yang berlantai karpet ini menjadi kandang monyet karena kami sempat memelihara monyet yang mempunyai hobi buang air besar dan suka ngacak-ngacak tempat sampah yang terbuat dari plastic trashbag.  Tapi itulah beberapa hal yang terjadi di kontrakan kami, dan masih banyak lagi. Walaupun kondisinya busuk tapi kami sangat mencintai kehidupan di kontrakan ini. Amat sangat disayangkan kontrakan ini tidak bertahan sampai kami lulus kuliah satu orangpun sebagai penghuninya. Hingga terpaksa kami berpindah ke sebuah kost dengan harga yang lumayan miring dengan kondisi yang miring juga. Kata pepatah jawa “Rego Nggowo Rupo” yang berarti harga membawa kualitas barang. Wajarlah harga murah kalo fasilitas atau tempatnya seadanya. Sebagai mahasiswa yang merantau atau mahasiswa yang muak akan kemacetan Jakarta, kami cukup bersyukur walau tinggal di Kost yang bersekat triplek dan beratap asbes ini. Kost yang disiang hari seperti neraka ini (Panas), bila malam tiba, bergantilah dengan munculnya binatang kecil (nyamuk) yang entah apa fungsinya untuk kehidupan, binatang yang bisa terbang dan doyan sekali menyedot darah kami tanpa permisi. Tapi itulah manis dan pahit saya dan kawan saya sebagai mahasiswa di sebuah Kota yang selalu jadi impian bagi  siapapun. Tapi tidak pada pagi ini, dingin karena suhu ruangan yang ber-AC. Sebuah hotel yang ada di sekitar jalan Cikini Raya.  


Ruang Belakang Kontrakan Bimbang
Ruang Belakang Kontrakan Bimbang


Setelah melakukan sembahyang subuh dan sarapan di Hotel. Kami bergerak ke Taman Ismail Marzuki, dengan berkendara yang diparkir tepat didepan parkiran XXI TIM. Saya mengecek situasi, seperti yang saya duga, acara wisuda pastilah ‘ngaret’ dan hal itu terbukti. Namun tepat pukul 07:15 saya mengajak kakak dan Ibu saya untuk masuk ke Gedung Teater Jakarta (Teater Besar) tempat dimana acara wisuda Institus Kesenian Jakarta (IKJ) berlangsung. Setelah mengisi buku tamu, saya dan keluarga (Ibu dan Kakak laki-laki) berpisah. Karena tamu undangan ditempatkan diatas balkon penonton sementara peserta wisuda ditempatkan di bawah sejajar panggung utama. Itupun tidak langsung masuk ruangan gedung karena para peserta disuruh menunggu diluar, sementara orang tua dan keluarga kami lebih dulu masuk ke lantai 2 dan lantai 3. 

Wisuda FFTV IKJ 2016
Wisuda FFTV IKJ 2016

Wisuda Institut Kesenian Jakarta
Pose sebelum di Wisuda


Tepat sekitar pukul 09:20 WIB kami dipersilahkan memasuki ruangan gedung dengan berurutan sesuai dengan absensi per-fakultas. Saya sendiri ada di barisan yang cukup belakang karena masuk ke Fakultas Film dan Televisi (FFTV) Institut Kesenian Jakarta. Entah apalasannya fakultas kami di taruh dibagian paling terakhir, saya rasa FFTV adalah bagian orang-orang dibalik layar sehingga ditaruh dibagian kursi paling belakang (asumsi), sementara fakultas lain adalah orang-orang didepan layar (Fakultas Pertunjukan, Musik, Tari). Itu sih Cuma pendapat saya saja, entah benar atau emang kebetulan ngawur (analisa gembel).hehe.. 

Fajar, Saya, Mpi, Dede, Gatot, Yogi saat realease picture lock di kampus tercinta
Team Work Hari ini Esok dan Seterusnya. Tanpa dihadiri Mpi yang sedang Melanjutkan kuliahnya di Swiss


Saya duduk disamping partner saya sekaligus produser Tugas Akhir yaitu Dede Rizki Rosidah. Sedikit membahas soal tugas akhir, saya memiliki 5 orang tim yang ikut ujian dalam kelompok yaitu Dede Rizki Rosidah, seorang produser berbadan kecil namun lincah ini selalu punya cara tersendiri dalam menyelesaikan problem solving ketika menjalankan tugasnya sebagai produser di tugas akhir kami. Dede punya ‘kekuatan ajaib’ yang sangat membantu kami dalam proses tugas akhir. Dede lulus dengan predikat sangat memuaskan. Yang kedua adalah Larry Luthfianza Mirza Fadhil Yacub, seorang mahasiswa yang memiliki nama panjang seperti kereta api ini, memiliki hobi menulis, hobinya dituangkan menjadi cerita/skenario (scipt) di tugas akhir kami. Larry atau yang lebih akrab disapa ‘Mpi’ ini, mengambil bagian penulisan skenario. Dengan pengalamannya dalam dunia tulis-menulis dan dikombinasikan dengan hobinya membaca, Mpi menjadi penulis yang cukup rajin dan berbakat dikelompok TA kami. Hingga sekenario (script) bisa tersusun dengan rapi sesuai imajinasi Mpi dan kami sekelompok. Mpi mendapatkan predikat sangat memuaskan di wisuda FFTV IKJ 2016 ini. Orang yang ketiga yang juga ikut serta dalam berproses bersama adalah Fajar Ridho Ilahi. Putra daerah asal Bukit Tinggi, Padang, Sumatera Barat ini, memiliki sumbangsih yang cukup tinggi dalam hal visual, ia bertugas sebagai penata kamera ditugas akhir kami saat itu. Fajar sosok yang cukup kritis dalam menghadapi segala sesuatu termasuk tugas akhir, ia sangat menyukai sosok Soe Hok Gie. Dibalik sosoknya yang menyukai musik Pink Floyd  ini. Fajar menjadi angkatan kami yang paling senior di kelompok tugas akhir, namun ia bisa melebur kedalam kelompok kami.Fajar mendapatkan predikat sangat memuaskan di wisuda ini. Selanjutnya sosok yang ke empat adalah Yogi Tri Kuncoro adalah Mahasiswa yang tinggal di Bekasi, kedua setelah Larry (Mpi),  ia juga ikut berproses bersama dalam tugas akhir kami yang berjudul “Hari Ini, Esok, dan Seterusnya”. Ketika SMA, Yogi memiliki Band Pop yang entah bagaimana kelanjutannya sekarang (mungkin sudah bubar.hehe). karena kecintaannya akan musik, ia mengambil jurusan Sound di FFTV IKJ yang kemudian bertugas sebagai penata suara sekaligus penata music berpartner dengan Arif Fauzan (Masbab). Kepiawaian Yogi dalam Tata Suara ia tunjukan di Tugas Akhir kami. Ia sangat total dalam menggarap suara dan music bahkah dialog sekalipun ia proses dalam ADR. Yogi mendapatkan predikat sangat memuaskan di wisuda FFTV IKJ. Dan yang terakhir adalah saya sendiri Wawan Purwanto Sirait sebagai ‘Sutradara Belajar’ membuat film “Hari ini, Esok dan Seterusnya”, diberi kepercayaan untuk menyutradarai Tugas Akhir kami karena saya sendiri kebetulan mengambil mayor atau peminatan penyutradaraan di Fakultas Film dan Televisi – Institut Kesenian Jakarta (FFTV-IKJ). Saya orang yang paling banyak belajar dalam kelompok ini, bagaimana saya memposisikan diri sebagai seorang sutradara yang belajar, bagaimana saya memposisikan diri dalam memimpin proses kreatif, bagaimana saya memposisikan diri berkoordinasi dengan tim (crew) dan pemain saya, bagaimana saya berusaha menerjemahkan cerita kedalam bentuk visual dibantu oleh tim kreatif, bagaimana saya belajar, belajar, dan terus harus belajar karena saya adalah seorang sutradara yang masih belajar. Didalam wisuda ini saya mendapat predikat yang sama dengan teman-teman saya yaitu sangat memuaskan. Dan saya sangat berterima kasih juga kepada teman-teman crew yang membantu kami selama proses tugas akhir saat itu seperti Gatot, Catty, Bang Chevi, Bismo, Sueb, Ihsan, Kiki, dan lain sebagainya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.hehe.. 

Hari ini, Esok dan Seterusnya
Saya sebagai Sutradara di Tugas Akhir "Hari ini, Esok dan Seterusnya"


Saya ingat dulu kalimat dari teman saya. “Masuk IKJ itu gampang (sebagian bilang susah), tapi keluarnya susah (susah lulus) apalagi kalau kita salah jurusan”. Tapi menurut saya, asal kita mau berusaha dan tahan banting dari godaan kerjaan, pasti bisa melewati kok prosesnya, asal mau usaha bersungguh-sungguh.  

Saya bersama Mamah (Ibu) dan AA (Kakak)


Kembali ke acara wisuda, saya tidak menyangka bahwa wisuda kali ini bersama dengan wakil gubernur jawa barat sekaligus aktor dan sutradara senior yaitu Deddy Mizwar, beliau  baru menyelesaikan study sarjana nya di Institut Kesenian Jakarta. Selain itu, ada juga aktor seperti Ence Bagus Hartono, seorang aktor yang belakangan ini memerankan peran sebagai boss di film Warkop DKI Reborn ini “Jangkrik Boss” ikut serta sebagai peserta yang di wisuda IKJ 2016, dan masih banyak lagi beberapa senior yang melanjutkan kuliahnya di Institut Kesenian Jakarta. Saya salut dengan semangat mereka yang sudah ‘mapan’ dalam hal ‘pekerjaan’ namun tetap semangat melanjutkan study-nya tanpa malu melihat usia. Salut buat semuanya..

Temen-temen Kontrakan Bimbang beberapa ekor nongol. terima kasih atas supportnya selama ini :)
Kelompok Tugas Akhir saya saat itu (tanpa kehadiran Mpi)
Kalian Luar Biasa!

Wisuda IKJ
Neng Farah, Sueb, Saya, dan Bimar
Wisuda IKJ
Dihari Bahagia ini, Sulit rasanya buat Foto Sendirian, Selalu ada yang rusuh pengen masuk frame (with Cemonk)


Nia, Ihsan, dan Saya akhirnya wisuda bersama :D

Aling, Cemong, Ihsan, Saya, Halim
Pasukan Skoy
Selamat Mengejar Masa Depan ya!


Wisuda Institut Kesenian Jakarta 2016 berlangsung di Gedung Teater Jakarta ini. Tidak seperti wisuda pada umumnya, karena menurut saya wisuda disini tidak begitu ‘sakral’ karena diselingi dengan candaan-candaan yang terkadang membuat hadirin tertawa. Seperti yang dirasakan Ibu saya, satu tahun sebelumnnya, Ibu menghadiri wisuda adik perempuan saya, ia sampai menangis karena ia terbawa suasana wisuda saat itu, selain itu Ibu terharu karena saat ini sudah tidak ada suaminya (Bapak) yang ikut menghadiri wisuda. Tidak seperti dulu-dulu, Almarhum Bapak selalu ikut menghadiri ketika anak-anaknya sedang di Wisuda. Tapi di Wisuda IKJ ini, Ibu tidak menangis apalagi terharu sama sekali, karena terhibur dengan acara yang ada. Maklum saja sebuah acara dari kampus kesenian. Hal yang menarik di wisuda kali ini adalah dengan adanya sosok sastrawan sekaligus budayawan yaitu Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum. ia adalah Rektor Institut Kesenian Jakarta tercinta. Kami menjadi generasi pertama yang di wisuda oleh Rektor Seno Gumira Ajidarma (SGA). Dengan dipindahkannya tali ditopi wisuda kami, resmilah kami menyendang gelar sarjana seni (S.Sn). 

Mukaku, Mukamu, Muka Mereka, Muka-Muke-Komuk Wisudaan


Saya sangat berharap setelah ini bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan di kehidupan sehari-hari yang sekaligus menjadi senjata saya dalam mencari nafkah untuk saya dan keluarga. Semoga semua lulusan IKJ bisa berguna bagi Nusa, Bangsa, Seni, Budaya dan Agama. Amin..

Salam

Previous
Next Post »

3 comments

  1. Bahagia banget lulus wisudanya mas
    Selamat ya mas. SMoga sukses di masa depan :)

    ReplyDelete
  2. Ini keren banget ceritanya :)) Penulisannya enak. Selamat wisuda ya mas. Semoga makin sukses

    ReplyDelete

Halo, Terima kasih sudah membaca blog ini. Silahkan tinggalkan komentar anda disini.
Semua pesan yang anda kirim tidak akan langsung muncul karena akan kami filter terlebih dahulu untuk menghindari adanya spam :)

Popular