Alasan kenapa Saya Tidak Mengucapkan Selamat Hari Natal

12:35 AM
Sehari yang lalu, tepatnya malam sebelum hari Natal 2016, teman saya yang beragama muslim mengucapkan selamat hari natal disebuah grup whattshapp, grup yang merupakan kumpulan teman-teman dari berbagai suku dan agama (kebetulan cuma ada agama islam dan Kristen disitu) ini memiliki kesamaan hobi yaitu berpetualang. Malam itu saya diam saja dan hanya menyimak. Saya membaca chat teman saya yang mengucapkan "selamat hari natal" kebeberapa teman yang kebetulan beragama Kristen di grup tersebut. 



Diam tidak membalas chat apapun dan hanya memantau. Jujur saja, saat itu saya mempunyai prinsip untuk tidak mengucapkannya, tidak ada alasan yang pasti (lemahnya keilmuan saya), namun hanya berdasarkan keyakinan saja. Saat itu saya mengira MUI sudah resmi mengharamkan seorang muslim yang mengucapkan selamat natal ke teman non muslim (Kristen). 

Saya langsung melakukan pencarian di google dan mendapatkan beberapa artikel yang menyatakan bahwa MUI tidak pernah melarang orang islam mengucapkan selamat natal tapi juga tidak menganjurkannya. Initinya tidak ada fatwa MUI yang membahas soal ini. Pernyataan ini dibantahkan oleh Din Syamsudin dalam sebuah pemberitaan tempo belakangan ini:
Pemberitaan ini pada Rabu, 24 Desember 2014

Dilansir dari tempo.co Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Din Syamsuddin meluruskan pendapat yang berkembang di masyarakat tentang MUI mengharamkan ucapan selamat Natal. Menurut Din, MUI tak pernah mengeluarkan fatwa yang melarang umat muslim mengucapkan selamat Natal pada umat Kristiani.

"Fatwa MUI pada 1981 itu tentang Perayaan Natal Bersama. Hal yang diharamkan adalah bila umat Islam mengikuti upacara Natal bersama," kata Din, yang dihubungi Tempo, Selasa, 23 Desember 2014. 

Ada pendapat lain juga dari Quraish Shihab
(Kamis, 18 Desember 2014 10:20 WIB)

Selanjutnya ada pemberitaan terupdate dari sumber lain:
Dilansir dari Acehtribunnews.com
Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan Padangan dan Sikap MUI tentang larangan bagi seorang Muslim untuk mengenakan atribut keagamaan non muslim, termasuk atribut Natal.

"Itu sifatnya ritual, bukan ucapan," ujar Ma'ruf Amin kepada wartawan di kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (20/12/2016).


Allah Ta’ala berfirman,

لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُم مِّن دِيَارِكُمْ أَن تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ


“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al Mumtahanah: 8)



Lalu apa hubungannya MUI dengan keyakinan saya? 

Ketika berbicara mengenai keyakinan tentang meng-ESA-kan Allah SWT (Ilmu Tauhid), saya tidak segan-segan berusaha menolak apabila tidak sesuai dengan suasana hati, apalagi jika tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Sebagai muslim, ada pedoman hidup yang bisa dijadikan sebagai landasan dasar ketika menentukan hukum, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Kedua pedoman ini bisa dijadikan petunjuk apabila seseorang tidak ingin tersesat dalam situsi kondisi yang serba rancu. 

Suatu hari guru saya bertanya, diantara Al-Qur’an dan Hadits mana yang lebih penting? Tidak ada satupun siswa yang bisa menjawab saat itu, hanya beberapa siswa yang menjawab Al-Qur’an lah yang paling penting. Namun guru saya menjawab “kalian salah”. 

Jadi menurut guru saya yang kebetulan sudah Almarhum (Muhammad Ali), “kedua-duanya penting dan sama-sama kuat, karena bayangkan saja jika kita tidak menghiraukan Hadits (Sunnah) bagaimana kita tahu tata cara sholat? Al-Qur’an hanya memerintahkan seorang muslim untuk menjalankan sholat, tapi tidak tata caranya, artinya keduanya saling melengkapi” jadi sebenarnya apasih Al-Qur’an? Apa sih Hadits? Saya akan berusaha menjawab sesuai pemahaman yang saya pelajari. Al-Qur’an merupakan ayat Allah SWT yang diturunkan melalui malaikat Jibril berupa wahyu yang diberikan kepada Rasullullah SAW sebagai petunjuk sekaligus teguran bagi umat manusia. Sedangkan Hadits merupakan segala perbuatan, perkataan, keinginan/cita-cita Rasulullah SAW.


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

Aku telah tinggalkan pada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. 
(Hadits Shahih Lighairihi, H.R. Malik; al-Hakim, al-Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm. Dishahihkan oleh Syaikh Salim al-Hilali di dalam At Ta’zhim wal Minnah fil Intisharis Sunnah, hlm. 12-13).


Jadi kesimpulannya adalah Al-Qur’an dan Hadits (Sunnah) merupakan pedoman atau petunjuk bagi kehidupan manusia. Segala perkara atau permasalahan yang ada bisa diselesaikan dengan mengacu kepada keduanya. Nah pertanyaannya adalah bagaimana jika perkara atau permasalahan yang ada tidak dibahas di Al-Qur’an dan juga Hadits? 

Perlu kita ketahui, dalam menentukan hukum islam yang terakhir adalah melalui kesepakatan ulama (‘ijma). Ijma berlaku setelah/semenjak meninggalnya Rasulullah SAW. Kesepakatan ulama menjadi bisa menjadi dasar hukum selama adanya usaha dengan sungguh-sungguh dari para ulama dalam mencari solusi atau ketika menentukan hukum.


Kita kembali lagi ke masalah mengucapkan selamat natal di whatsapp. Saat itu saya 'mengira' bahwa MUI telah melarang seorang muslim mengucapkan selamat natal. Karena menurut saya MUI bisa saja mengeluarkan fatwa yang akhirnya bisa jadi ‘ijma jika diterapkan dan disepakati ulama? Saya mencari tahu melalui internet dan dibeberapa sumber pemberitaan mengatakan bahwa MUI tidak mengeluarkan pernyataan atau larangan mengucapkan selamat hari natal, hanya saja mengharamkan muslim yang ikut merayakan dan memakai segala atribut natal. 

Sebaliknya ada yang mengharamkan jika seorang muslim mengucapkan selamat hari natal kepada orang yang beragama Kristen. Disini jelas sekali terjadi perbedaan pendapat. 



Seperti halnya siang tadi, tepat tanggal 25 Desember 2016, bertepatan dengan hari raya natal saya menghadiri sebuah kajian keilmuan di Mesjid Darussalam Kota Wisata Cibubur. Kajian itu mengambil tema “Dialog Perbedaan Agama”. Ada dua narasumber dalam kajian tersebut. sempat disinggung tentang mengucapkan selamat natal. Ulama pertama berpendapat boleh saja asal keyakinannya tidak goyah, karena pendapat ini saya lalu mengambil jalan tengah. Akhirnya saya ikut mengucapkan hanya saja dengan cara “selamat hari raya bagi yang merayakannya” . Saya mengucapkannya melalui grup whattsapp tadi. 


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ

“Janganlah kalian mendahului Yahudi dan Nashara dalam salam (ucapan selamat).” (HR. Muslim no. 2167). Ucapan selamat natal termasuk di dalam larangan hadits ini.  

Namun setelah itu masuk ke sesi kedua, ulama kedua mengatakan bahwa mengucapkan selamat hari natal ke non muslim hukumnya haram. Karena hari natal merupakan perayaan atas lahirnya Tuhan Yesus, dengan ikut mengucapkan berarti ikut meng’amin’kan kelahiran Tuhan Yesus. Astagfirulloh. Saya berlindung kepada Allah SWT dari perkara-perkara yang belum jelas, saya berlindung kepada Allah SWT yang bisa membolak-balikan hati manusia, semoga saya dan keluarga saya diberi petunjuk dan selalu dituntun ke jalan yang benar.


Jujur saya menyesal sudah mengucapkan Selamat hari raya walau melalui whatsapp. Semoga untuk kedepannya saya tetap berpegang teguh dengan prinsip saya. 


Alasan kenapa Tidak Mengucapkan Selamat Hari Natal 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوْا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوْهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ الْيَهُوْدُ وَالنَّصَارَى! قَالَ: فَمَنْ.
“Sungguh kalian betul-betul akan mengikuti jalan-jalan orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta hingga, andaikata mereka masuk ke lubang dhab (mirip biawak), niscaya kalian akan mengikutinya,” Kami berkata, “Wahai Rasulullah, apakah mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka) ?”
(Fathul Bari 13/300 , Muslim No. 2669) 


Mengenai Toleransi Beragama

Dewasa ini beredar isu mengenai toleransi beragama. Menghormati dan saling menghargai antar umat beragama. Seorang muslim dibilang tidak toleran ketika ia mengharamkan muslim yang mengucapkan selamat natal. 


Surat Al-Kafirun

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”


Sebentar, mari kita telaan surat Al-kafirun ini. "lakum diinukum waliya diin", surat Al-Kafirun tersebut ternyata ada di akhir surat.

Coba simak secara keseluruhan:

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْكَٰفِرُونَ ﴿١﴾ لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٢﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٣﴾ وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ ﴿٤﴾ وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ ﴿٥﴾ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ ﴿٦


Artinya :
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS. Al-Kaafiruun : 1-6)


Pertanyaannya: kenapa di taruh di akhir surat? kenapa awalnya justru kalimat "KATAKANLAH" ?

Dan hari natal adalah sebuah perayaan dari kelahiran Tuhan Yesus? Lantas kita sebagai muslim ikut serta mengucapkan selamat atas kelahirannya? Saya justru khawatir jika ikut serta mengucapkan selamat hari natal akan membuat kita meng-AMIN-kan pernyataan bahwa Yesus adalah Tuhan. Tuhan Yesus, Tuhan Bapa, dan Roh Kudus. 

Ini yang membuat saya lebih baik diam, saya berusaha bertoleran dengan cara diam, artinya saya menghindari mengucapkan selamat hari natal. Itu menurut keyakinan saya terlepas dari semua perbedaan pendapat yang ada. Semoga sikap yang saya ambil tidak membuat orang lain tersinggung karena ini masalah keyakinan. Saya menghargai teman-teman saya yang non muslim sebagai sesama manusia. Itulah makna toleransi menurut saya. 

Sumber referensi: 

Previous
Next Post »

4 comments

  1. Saya lbh baik diam tetap berdiskusi dan berbincang tp ttp dg apa yg saya yakini. Sejauh ini tdk menjadi permasalahan asal ttp toleransi
    'Untukmu agamamu untukku agamaku' ayat ini yg kerap.Saya pegang teguh

    ReplyDelete
  2. untuk ucapan ini saya suka caranya Ridwan Kamil. Coba cari di instagram beliau deh saat beliau memberikan sambutan dalam rangka ibadah Natal.

    ReplyDelete

Halo, Terima kasih sudah membaca blog ini. Silahkan tinggalkan komentar anda disini.
Semua pesan yang anda kirim tidak akan langsung muncul karena akan kami filter terlebih dahulu untuk menghindari adanya spam :)

Popular