Catatan kecil untuk Almarhum

12:47 PM Add Comment
Apa kamu pernah merasa kehilangan?
Apa kamu pernah ngerasa kangen tapi nggak bisa ketemu orang yang kita kangenin? 
Apa kamu pernah ngerasa sesak di dada saking udah nggak bisa lagi nangis? 
Apa kamu pernah punya kenangan sama orang yang kita sayangi?
Dan apakah kamu pernah ngerasa kehilangan orang tua?
Saya rasa semua itu bisa dirasakan sama  yang pernah ngalamin. 

Malam ini saya berbaring di ranjang kasur  kamar. Udah berusaha tidur, tapi nggak bisa tidur. Tiba-tiba terlintas wajah Almarhum Bapak di ingatan saya. Bagaimana tidak ingat, dulu semasa beliau masih ada, beliau kadang-kadang menghampiri saya secara tiba-tiba masuk ke kamar dan ikut tiduran di ranjang kamar saya. Kadang suka ngasih semacam nasehat, kadang juga hanya sekedar bertanya-tanya ringan seputar kegiatan saya. Malah kadang-kadang Bapak minta saya memijitin kakinya, ah saya rasa saya kangen masa-masa itu. 

Bapak inget nggak? Waktu saya masih kecil, saya suka diajak sama Bapak buat nembak burung? 
Saya inget, dulu Desa tempat kita tinggal nggak serame sekarang, belum ada yang  namanya perumahan, yang ada cuma sawah, kebun, rumah tetangga yang berjauhan, sama lapangan sepak bola bernama lapangan rawa nyancong (club sepakbolanya sendiri namanya PSC; katanya sih kependekan dari Persatuan Sepakbola Cipenjo). 

Di kasih mainan lucu (USB COMMUNICATOR STAR TREK)

1:00 PM Add Comment


Mungkin buat orang lain ini mainan biasa, tapi buat saya ini mainan yang lucu. Hadiah dari kawan saya bernama Kandar Freeman.

Jadi waktu kemarin sore, saya mampir ke toko mainannya yang ada di Blok-M Square, terus si Kandar buka mainan Communicator gitu. Awalnya agak aneh juga, ini mainan jenis apaan sih ya?

Katanya sih namanya USB COMMUNICATOR STAR TREK.



Katanya sih fungsinya bisa dipakai buat alat komunikasi via internet, pake aplikasi Skype, MSN, sama Facebook. Penasaran juga sih. kulik dulu ya :D

Asiknya bermain-main seperti anak kecil

10:37 PM Add Comment
Sebagian orang punya cara buat bikin suasana nyaman. inilah cara kami buat bikin diri kami nyaman dan melupakan sejenak segala macam masalah. mari bermain-main


 

Keseharian yang bikin penat bikin kami butuh refreshing. Beginilah kelakuan kami  diluar tetek bengek aktivitas yang ada di ibu kota. Enak sekali rasanya membebaskan diri bermain-main seperti anak kecil yang gak ada beban pikiran apalagi masalah. Hilangkan gengsi dan bermainlah bersama kami. Berlarian, bermain pasir, bermain tanah, renang di sungai, main layang-layang sampai main tabrak-tabrakan.




Foto-foto diatas diambil saat mendaki ke Gunung Papandayan dua bulan yang lalu.  Silahkan cek disini

Minimalisir Dana Menuju Puncak Papandayan, Garut 2016.

2:01 AM 3 Comments
8 Januari 2016. Ini perjalanan kedua saya ke Gunung Papandayan. Sebelumnya saya sudah ke Gunung Papandayan 3-4 tahun sebelumnya. 

Saya dan 18 orang lain yaitu Twin, Pritha, Rizky, Bayu, Anita, Yuni,, Vina, Ganda, Inu, Veby, Ainur, Septi, Deny, Samsul, Imeh, Said, Kandar, dan Clara. Melakukan perjalanan menuju Garut, Jawa Barat. Tujuan kita adalah naik ke Gunung Papandayan ( 2665 Mdpl).

Malam itu kami berkumpul di Terminal Kampung Rambutan pukul 21:00 WIB. Berhubung hari jumat masih ada yang bekerja, maka perjalanan kami lakukan pada jumat malam dari Jakarta. Saya lupa bis yang kami tumpangi malam itu, yang jelas bukan bis Primajasa, tapi bis lain yang kebetulan ada jurusan ke Garut-nya. Tarif bisnya sendiri sebesar Rp.50.000 per-orang. Sebelum berangkat, bis yang kami tumpangi sempat ngetem mencari penumpang di gerbang keluar Terminal Kampung Rambutan. Perjalanannya sendiri memakan waktu sekitar 5 sampai 6 jam perjalanan. sekitar jam 4 subuh, kami tiba di Terminal Guntur, Garut. 

Sesampainya di Terminal Guntur, Garut. Kami duduk di sebuah emperin toko sambil nunggu angkot menuju Cisurupan. Beberapa menit kemudian datanglah seorang calo menawarkan kami angkot. ongkos angkot sendiri sekitar Rp.20.000 per-orang. Sebelum berangkat, sempat terjadi musibah. Sepatu saya hilang di Mesjid dekat Terminal. Kejadiannya tepat setelah sholat subuh. Parahnya lagi sepatu yang hilang ada dua, sepatu saya dan sepatu pendaki lainnya. Jadi buat temen-temen yang sholat subuh di Mesjid dekat Terminal Guntur, harap lebih waspada. Kata orang situ sih kejadian kayak gini sering terjadi. Berhubung ada penitipan sepatu, mending di titipin deh sepatunya. gara-gara kejadian ini saya melanjutkan perjalanan pakai sendal. huhu..

Foto bersama di Camp David

Tidak ada solusi atas kejadian ini karena tidak seorangpun tahu siapa pelakunya (mungkin ada yang pura-pura tidak tahu juga). Akhirnya kami melanjutkan perjalanan setelah sholat subuh dengan angkot menuju Simpang Cisurupan. Dari simpang Cisurupan dilanjut naik mobil pick-up. ongkos naik mobil pick-up (losbak) sekitar Rp.20.000,- dan parahnya kita pakai cuma satu pick-up. beuh.. bayangin aja kita naik satu pickup berisikan 19 orang (termasuk saya) ditambah dengan tas carier yang jumlahnya sama juga. hahaha.. 

Perjalanan kami tempuh sekitar 15-20 menit menuju gerbang Papandayan. Setelah tiba di gerbang, kita dikenai biaya registrasi yaitu sebesar Rp. 12.500 per-orang (termasuk simaksi). Selanjutnya kami tiba di Camp David sekitar pukul 08:30 WIB pagi. Dari Camp David kami mendaftarkan diri (kelompok) dengan memberikan uang seikhlasnya (aslinya mungkin gak ada biaya lagi). Bascamp ini adalah basecamp terakhir sebelum naik ke Gunung Papandayan. Sebelum berangkat mendaki kami berkumpul dan berdoa bersama sambil menikmati suasana Camp David, hingga pukul 09:00 WIB kami mulai berjalan selangkah demi selangkah menapakkan kaki menuju Gunung Papandayan. Di perjalanan menuju puncak saya sendiri bertugas sebagai pen-dokumentasi perjalanan. Dengan bermodalkan kamera DSLR Canon 7D saya merekam perjalanan berupa video dan foto. 

Berhubung dari kami ada yang baru naik gunung, maka perjalanan yang kami gunakan adalah naik dengan santai yang penting enjoy, tanpa target waktu, syukur-syukur sampai Puncak (Bagi yang berminat tentunya). Perjalanan dimulai dengan melewati sebuah jalanan nanjak berbatu dihiasi dengan asap belerang dari sebelah kiri badan ketika berjalan naik. ini adalah Kawah Papandayan. Kawah ini memperlihatkan jurang dengan asap belerangnya ditambah bau belerang yang menusuk hidung. Bagi orang yang tidak biasa mungkin akan cukup menganggu. Tapi gak usah khawatir, kamu cukup bawa masker (penutup mulut dan hidung) aja buat nanjak kesini. 

Suasana perjalanan berusaha saya nikmati sambil merekam video. lewat LCD monitor kamera DSLR yang saya bawa, saya berusaha mengabadikan momen perjalanan ini. Setelah melewati jurang yang ada asap belerangnya, tibalah kami disebuah warung (di Papandayan ada warung). Warung yang menjual beraneka macam makanan seperti indomie, kopi, gorengan, buah semangka, dan sebaginya. jadi temen-temen gak usah takut bakal kelaperan.haha. Sambil istirahat kami sambil berfoto ria (jijik banget kan) dan menikmati gorengan.haha..

 Kawah Papandayan, ini belum sampai puncak lho.. masih dibawah


Setelah istirahat beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan melewati sebuah jurang yang dibawahnya terdapat tulisan dari tumpukan batu-batu gunung. Tulisan ini biasanya terus berganti dalam setiap waktu, diubah oleh para pendaki yang ingin mendokumentasikan perjalanannya. Seru juga sih. Selama itu gak merusak alam sih gak masalahlah :) 


Lanjut Ke Pondok Salada

Setelah melewati jurang kami sampai ke sebuah hamparan rumput yang empuk buat duduk. Bayangan saya dan teman-teman, rumputnya seperti kasur springbed.hehe di sekitar terlihat lembah Gunung dan sisa-sisa tanah longsor. kami beristirahat sebentar untuk menikmati lalu melanjutkan perjalanan ke lembah Gunung papandayan melewati pohon-pohon kecil yang tidak terlalu banyak dicampur dengan ilalang. Setelah itu melewati sebuah aliran sungai kecil (kecil banget). Dari sungai lanjut naik lagi jalan berbatu bercampur tanah. Untung aja cuaca lagi cerah, kalau hujan bisa licin nih jalan. Selanjutkan melewati sebuah hutan sampai ketemu jalanan lebar berbatu, kami istirahat lagi (istirahat mulu ya). dilanjutkan perjalanan sampai menuju post sebelum masuk Pondok Salada. Dari pos itu kami mendaftarkan ulang nama kelompok kami dengan menyerahkan kertas pendaftaran untuk didata. Agak aneh sih sebenernya, masa di data mulu. Yang jelas di Pos ini ada kotak uang yang harus di isi (katanya sih seiklhasnya). di sini terdapat warung juga lho, ada 4 warung.

Perjalanan kami lanjut. Selama perjalanan, saya kembali memotret sebuah air terjun yang hijau terlihat dari ketinggian di jalur pendakian kami hingga sekitar pukul 12:15 WIB kami tiba di Pondok Salada. Pondok Salada sendiri merupakan tempat yang lapang dan biasanya memang digunakan untuk nge-camp (pasang tenda) para pendaki. Tapi sekali lagi ada yang berbeda disini, terlihat sudah ada warung di Pondok Salada. Persis seperti warung yang ada di dekat perjalanan sebelumnya dan lebih banyak. Mungkin jumlahnya sekitar 15 warung, ditambah dengan adanya wc umum (toilet) lengkap dengan mushola. eiiitt.. walau begitu jangan anggap enteng ya, udara di Pondok Salada cukup dingin. Bisa bikin badan kita sampe mengigil, apalagi kalo sudah turun hujan/kabut. beuh.. kerasa sampai tulang.. :D

Lembah papandayan lengkap dengan bekas tanah longsor


Terlihat banyak tenda para pendaki, karena udara cukup dingin, kami memilih lokasi dibawah pohon untuk mendirikan tenda. Saya sarankan buat temen-temen yang pengen kesini, sebaiknya bikin tenda yang sedikit masuk ke dalam hutan-hutan kecil supaya udaranya bisa rada ketahan, kalau di tanah lapang bakal terasa banget dinginnya. Gak usah khawatir bakal kehabisan lokasi buat masang tenda, soalnya Pondok Salada cukup luas. hehe.. Ini perjalanan dengan menggunakan tenda terboros. bayangin aja kita pasang tenda sekitar 7 tenda. hahaha di Pondok Salada ini kita sudah bisa nemuin sedikit bunga edelweiss lho..

Malam hari tiba, sambil masak makanan kami menikmati teh hangat, sebagian bahkan menikmati susu jahe dan kopi. Sungguh indah rasanya. Suasana dingin, sejuk dan menyegarkan sangat terasa disini. Air dari mata air terasa banget dinginnya kalau kesentuh. brrrr.... Malam itu kami terpaksa bikin api unggun supaya badan kami tetep hangat. eit tapi kalau bikin api unggun hati-hati ya soalnya rawan kebakaran. selesai berapi unggun ria, sebaiknya api unggun di matikan/disiram. sebisa mungkin pakailah batang kayu yang benar-benar sudah mati atau kering, disamping buat ngejaga kelestarian hutan, pas kayunya di bakar juga lebih cepat hidupnya.haha Pakailah sebijak mungkin, kecuali dalam keadaan darutat. Tetep jaga lingkungan ya, kalau kata slogan pecinta alam gini; 

"Jangan ambil sesuatu kecuali gambar, jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan bunuh sesuatu kecuali waktu."


Menuju Puncak

Keesokan harinya saya bangun agak terlambat. ternyata saya ditinggal sama temen-temen yang sudah berjalan menuju puncak. Untung saja masih ada 5 orang yang masih setia menunggu tenda dan tidak naik ke puncak. Setelah masak sarapan, saya memutuskan untuk jalan ke puncak. ditemani 4 kawan yaitu Samsul, Clara, Imeh, dan Said. Sayang kalau udah kesini gak dapat gambar. 

Kami berjalan dengan membawa satu tas daypack berisi air 2 liter dan cemilan berupa snack dan roti. Perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 jam (jalan santai) untuk menuju puncak. Kami tidak naik lewat hutan mati tapi lewat jalur yang biasa digunakan untuk evakuasi, jalur ini cukup landai. Sambil merekam, kami berjalan melewati hutan menajak hingga akhirnya sampailah kami di padang edelweiss. Saya berusaha mengabadikan gambar. 

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan sampai puncak Gunung Papandayan, saat itu tepat pukul 12:00 WIB. Puncak Papandayan seperti kebon, banyak pepohonan dikanan kirinya. Disini kami berfoto ria (norak) sambil duduk santai dan menikmati perbekalan. Setelah itu kami turun menuju Hutan Mati. Perjalanan menuju hutan mati cukup terjal. lebih terjal dari jalan kita naik menuju puncak. Hati-hati ya kalau turun lewat sini. Kami menuruni sebuah tanjakan terjal (tanjakan mamang), beberapa kali terpeleset (jalanan licin), berjalan perlahan dan sampailah kami ke Hutan Mati. untungsaja pohn-pohon sekitar cukup bisa dijadikan sebagai pegangan tangan. Sampailah kita di Hutan Mati, Saya merekam beberapa video dan gambar. Menurut saya hutan mati berasal dari hutan yang kena siraman aliran lahar atau kebakaran hutan (sok tau, info lengkap cari sendiri ya, ini cuma asumsi.haha).

No picture is hoax. berikut ini album perjalanan selama di gunung Papandayan




Kandar Freeman dan dua bidadari di Tegal Alun, Gunung Papandayan



Eka Twins si Anak Gunung Papandayan


Inu pendekar kawah papandayan


Samsul dan Clara di Puncak Papandayan


Papan Puntjak Gunung Papandayan yang banyak coretannya (Jangan dituru)


Saya di Hutan Mati Gunung Papandayan


Liburan kaum kusam di Hutan Mati Gunung Papandayan

Setelah puas menikmati suasana Hutan Mati, kami melanjutkan perjalanan ke Pondok Salada, tempat dimana tenda kami berada. Hanya membutuhkan beberapa menit saja tibalah kami di Pondok Salada. Disana sudah ada teman-teman yang menunggu terutama teman yang tadi pagi sudah ke puncak duluan. mereka sedang menikmati makanan sambil packing tenda. Kami langsung bersiap-siap untuk pulang. dan tepat pukul 14:30 WIB kami berjalan pulang menuju Camp David. Sekitar pukul 17:00 WIB kami tiba di Camp David lalu melanjutkan perjalanan pulang menuju Jakarta. 

Dan inilah pengalaman dan perjalanan kami selama di Gunung Papandayan. Buat temen-temen tetep jaga kebersihan ya. Jangan buang sampah sembarangan di Gunung atau tempat wisata lainnya :) 


Rincian dan Estimasi Dana

Jadi kesimpulan biaya perjalanan berangkat dari Jakarta menuju Garut (Gn.Papandayan) sekitar Rp.50.000+Rp.20.0000+Rp.20.000+Rp.12.500=RP.102.500,- (Pergi)
sedangkan saat pulang kita tidak lagi membayar biaya masuk jadi cuma ongkos perjalanan pulang, berikut rinciannya:
  • Pickup: Rp.20.000
  • Angkot menuju terminal Guntur: Rp. 20.000
  • Bis menuju Jakarta Rp. 50.000
Jadi total biaya pulang sekitar Rp. 90.000
Kalo dihitung total seluruh pengeluaran biaya ongkos pulang-pergi sekitar
Rp.102.500+Rp.90.000=*Rp.192.500,- (Biaya tidak termasuk biaya tak terduga misalnya jajan diwarung, beli oleh-oleh dan sebagainya).



Jangan lupa kunjungi video papandayan disini 








Popular