14 Hari di Madura

2:49 PM
Pantai di Bangkalan-Madura
Sebenernya udah lama pengen banget nulis cerita tentang perjalanan saya selama empat belas hari di Madura. Tepatnya tanggal 14-28 April 2015 saya dan teman-teman pergi ke Madura untuk urusan Syuting (Pra-Produksi). Mungkin kalau di syuting professional yang sudah ada penanam modal (Eksekutif Produser) tahap kemarin bisa disebut proses hunting lokasi, Tapi ini bukan syuting komersil atau lebih pada kegiatan Tugas Akhir kampus maka proses hunting digabung dengan proses Recce. Proses hunting sendiri merupakan tahapan pra-produksi yaitu saat dimana kita mengecek atau mendatangi tempat-tempat yang dibutuhkan untuk syuting nantinya sesuai dengan kebutuhan yang ada di skenario film. Proses hunting dilanjutkan dengan proses Recce(Pra-Produksi), yaitu proses dimana meninjau kembali segala sesuatunya dan dipastikan telah siap apabila nantinya kita akan syuting (Produksi).

Nah kembali lagi ke cerita Madura. Siang itu kita kumpul di Kampus. Tepat pukul 13:00 kita berangkat dari kampus naik bis kopaja ke stasiun pasar senen kalo gak salah harga bis sekitar Rp.4.000 per-orang. Kita dari Jakarta berangkat sekitar 7 orang. Di stasiun senen kita menunggu Kereta Api “Kertajaya” Jurusan Surabaya, Harga tiket Rp.90.000. Perjalanan Jakarta ke Surabaya menghabiskan waktu sekitar 12 Jam. Dari Surabaya kami mendatangi rumah kawan terlebih dahulu, kami menginap disana malam itu karena sampai Surabaya sekitar jam 2 dini hari. Kami tidur di rumah Rico yang tinggal bersama Eyang Putri (Nenek)nya. Sampai keesokan siang barulah kami berangkat ke Madura. Kami menyewa mobil dari Surabaya menuju Madura tapi tidak melewati Jembatan Suramadu karena pada saat itu tujuan pertama kami adalah berkunjung ke Kampus Trunojoyo Madura. Kampus Trunojoyo sendiri letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Dari Pelabuhan Tanjung Perak kita menyebrang menggunakan Kapal Feri atau kapal penyebrangan. Sampailah kami di Madura tepatnya di Bangkalan. Kami melanjutkan perjalanan ke Kampus Trunojoyo, Disana kami disambut baik oleh teman-teman kampus Trunojoyo khususnya teman-teman dari UKM Nanggala yaitu sebuah UKM Seni yang ada di kampus tersebut. Tujuan kami ke kampus Trunojoyo adalah untuk mencari pemain dan juga tambahan crew yang memang sangat kami perlukan (Nanti akan terjawab kebutuhannya ketika sudah masuk perkampungan).

Matahari mulai terbenam, kami memutuskan pulang ke rumah teman saya bernama Samsul. Dia adalah satu-satunya keturunan Madura dari kami bertujuh. Ya jelas saja ini adalah untuk kebutuhan Tugas Akhirnya Samsul dan Johan, sedangkan yang lain sifatnya hanya membantu saja. Sebelum pulang ke rumah saudara Samsul kami mampir ke sebuah warung yang menjual sate. Disana menjual sate ayam, kambing, dan sapi. Kata orang sate Madura yang asli itu enak apalagi sate sapinya yang khas. Tapi menurutku sama aja seperti sate sapi pada umumnya. Mungkin bukan khas karena rasanya tapi lebih ke jarang di jual di luar Madura, kalau pun ada cuma beberapa warung sate aja yang menjual sate sapi sisanya kebanyakan sate ayam sama sate kambing (terutama di Jakarta) mungkin karena harga sapi terbilang mahal. Sedang di Madura rata-rata melihara atau beternak sapi. Tapi bukan berarti harga sapi murah apalagi sapi buat karapan itu harganya bisa jutaan bahkan ratusan juta perekornya. Lumayan kan bisa dibayangkan harganya seperti kita beli Mobil.hehe

gambar rumah di madura
Rumah tempat dimana Mobil kita terjebak tanah basah
Bangkalan, Disebuah Desa bernama Banyuning Laok, Kecamatan Geger. Disitulah kami tinggal beberapa hari. Mobil putih kami melaju keheningan malam berjalan menuju sebuah Desa tujuan. Dikanan kiri tidak banyak terlihat rumah dipinggir jalanan, hanya ada beberapa rumah saja yang terlihat di dipinggir jalan, itupun jarak dari rumah satu ke rumah lainnya berjauhan. Konon orang-orang di Madura lebih suka membuat rumah di pedalaman atau menjauh dari jalan raya karena untuk menghindari para penjajah yang suka menculik para pemuda yang nantinya dipekerjakan secara paksa oleh Kolonial Belanda & Jepang pada saat itu untuk membangun, bertani, bertambang dan sebagainya. Cerita itu saya dapatkan langsung dari supir angkot yang saya dan teman saya tumpangi ketika setelah berkunjung ke Sumenep-Madura. Pada malam pertama kami sampai ke Desa Banyuning Laok sekitar jam 21:00 Wib. Mobil kami memasuki sebuah jalanan berbatu bercampur dengan batu karang dan juga lumpur akibat hujan. Kami sangat khawatir karena kondisi jalan yang kurang mendukung. Ketakutan kami adalah ketika ban kami bocor pasti bakal terjebak dimalam yang gelap gulita dengan jalanan sepi. Tapi untungnya mobil kami tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Kami memasuki sebuah halaman rumah yang terbuat dari teras keramik. Rumah sudah sepi, tidak ada tanda-tanda kehidupan hanya terlihat lampu teras yang menyala, mungkin para penghuni sudah tertidur pulas. Samsul berusaha memanggil orang yang ada di rumah itu namun ternyata yang keluar justru dua orang ibu-ibu yang datang dari rumah belakang. Dengan modal senter mereka mendatangi kami dan berkata. “Oh itu kamu sul. Kirain karyawan PLN, Mobilnya kayak mobil pegawai PLN.” Becandaan ibu-ibu tersebut. Mobil kami terjebak di halaman rumah yang masih berhalaman tanah berwarna kekuningan (seperti tanah batu kapur), tapi karena sudah terlalu capek akhirnya kami langsung menuju rumah Samsul. Ternyata Ibu-ibu tadi adalah Bibinya Samsul. Dia pernah tinggal di Bekasi bersama keluarga Samsul.

Salah Satu Langgar Warga
Kami berjalan dengan melewati jalan setapak dengan kondisi tanah yang becek akibat hujan sebelumnya. Hanya terdapat suara jangkrik dikesunyian malam. Kami melewati beberapa rumah yang rata-rata memiliki langgar atau tempat ibadah (Sholat) dan pelataran langgar yang biasanya digunakan untuk makan bersama keluarga. Langgar sendiri terbuat dari kayu yang dibentuk sedemikian rupa dalam bentuk rumah panggung. Malam itu kami sampai di rumah Bibinya Samsul. Saya lupa nama Bibi-nya.hehe disitu kami tidak disambut sebagaimana tamu yang bertamu ke rumah orang. Disitu justru tuan rumah seperti tidak enak atau lebih bisa dibilang malu (Todus) dengan orang baru terutama ‘orang Jakarta’ (Istilah yang mereka bilang). Samsul sendiri menjelaskan budaya todus/malu disini masih kental, makannya kita sebagai tamu harus pandai menyesuaikan lingkungan. Hal yang sangat membuatku kaget yaitu rata-rata yang tinggal dirumah tidak pandai berbahasa Indonesia. Rata-rata yang pandai bahasa Indonesia adalah anak kecil yang sekolah SD, SMP, ataupun SMA dan hanya sedikit yang sampai Kuliah itupun tidak tinggal di Madura. Rata-rata rumahnya terbuat dari keramik yang nempel sampai di dinding sudah termasuk rumah besar apalagi untuk hitungan desa. Hanya saja yang tinggal yaitu para Ibu-ibu yang sudah berusia lanjut dan anak kecil yang kebanyakan adalah cucunya. Rumah yang kami tinggali memiliki Langgar, Dapur, Rumah tua (Gudang), Kamar mandi, dan rumah utama untuk tidur yang terpisah. Untuk rumah utama sendiri memiliki tiga ruang kamar dan satu ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga untuk menonton tv. Setiap rumah memiliki salon atau  Speaker aktif yang biasanya digunakan untuk menyetel lagu-lagu dangdut sebagai hiburan keluarga. Rata-rata setiap rumah memiliki speaker aktif ini dan ditaruh di teras rumah. Untuk dapur terdapat di samping rumah, dapur sendiri biasanya terbuat dari kayu/bambu yang ditutup dengan bilik bambu atau seng dengan atap genteng. Tidak ada yang menonjol untuk dapur walau sederhana namun sudah menggunakan kompor gas dan alat-alat masak yang justru made in Malaysia. Walau ada kompor kayu (tungku) tapi biasanya hanya digunakan untuk hal-hal tertentu saja misalnya untuk memasak dalam jumlah besar, hari raya, dan sebagainya. Yang masih sangat menonjol justru di kamar mandi. Untuk kamar mandi biasanya terdapat semacam kolam yang digunakan untuk menampung air hujan. Dengan teknologi leher angsa air yang di tampung dialirkan ke bak mandi dan dapat langsung digunakan untuk mandi. Rata-rata di Desa ini menggunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari seperti untuk mandi, memasak, mencuci dan lain sebagainya maka dari itu hujan merupakan anugerah besar yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat didesa ini selain itu juga dapat menyuburkan lahan pertanian mereka. Tidak ada rumah yang mempunyai sumur khusus dirumahnya. Rata-rata sumur terletak di persawahan dan itupun letaknya jauh dari rumah. Sumur digunakan apabila dalam keadaan darurat seperti sudah tidak ada lagi air di kolam penampungan. Kalau saya perhatikan lahan disini cukup untuk kebutuhan bertani akan tetapi untuk pengairan masih kurang karena air disini termasuk susah terutama pada saat musim kemarau. Menurut sumber baca dari internet mayoritas mata pencaharian masyarakat Desa Banyuning Laok adalah Petani 30% dan 70% merantau ke Malaysia. Untuk usia produktif rata-rata merantau ke luar negeri yaitu Malaysia
Bendera Malaysia di Perairan Madura
Ngomong-ngomong soal Malaysia. Di Madura ini ada hal yang unik dan mungkin termasuk miris. Bayangin aja sampai ada warung kelontong yang menerima pembayaran dalam bentuk mata uang Ringgit (Uang Malaysia). beberapa hari kemudian saya main ke pinggiran pantai. saya melihat fenomena mengejutkan dimana Kapal-kapal nelayan memakai bendera Malaysia diatasnya. tidak hanya satu atau dua kapal tapi lumayan banyak. mungkin ini akibat dari tidak meratanya pembangunan khususnya untuk menciptakan sektor pekerjaan di Madura. Orang Madura lebih condong berbondong-bondong kerja di Malaysia untuk menghidupi Keluarga.

Sambil beristirahat kami mengobrol panjang di teras rumah namun karena hari sudah semakin malam akhirnya Nico berpamitan dia ingin langsung pulang ke Surabaya untuk mengembalikan mobil yang kami sewa. Mobil yang tadi terjebak di halaman rumah kami dorong bersama-sama sampai akhirnya bisa berjalan kembali. Akhirnya Nico diantar oleh teman saya yaitu Samsul dan Gumilang dengan naik motor mio. Mereka mengantarnya tidak terlalu jauh karena motor yang dikendarai bensinnya hampir habis dan juga tidak ada lampu depannya. Kata orang di Madura kalau malam hari terbilang masih rawan. Makannya rambut gondrong teman saya yang bernama Gumilang sengaja di gerai supaya terlihat lebih garang sehingga orang-orang terutama yang hendak berbuat jahat bisa berpikir dua kali sebelum berbuat jahat (gak tau ngaruh atau enggak tapi yang jelas katanya yang tadinya lihatin di warung-warung jadi rada-rada gimana juga.hehe)

Lepas dari itu, setelah mendorong mobil tadi kami langsung berjalan menuju rumah Bibi. Dengan modal senter dan penerangan dari handphone kami berjalan. Ketika berjalan melewati rumah seorang ibu-ibu yang sudah berusia lanjut menyapa kami dengan bahasa Madura. Kami hanya bisa tersenyum sambil menundukan kepala sebagai bentuk rasa hormat kami terhadap orang tua. Namun bahasa tubuh kami ternyata justru memancing ibu itu untuk terus mengajak berkomunikasi dengan kami. Saya dan teman-teman kebingungan harus menjawab apa. Beberapa kami balas dengan bahasa Indonesia namun sepertinya dia tidak mengerti bahasa kami. Disitu kami merasa seperti sedang berada disebuah tempat asing (Bukan di Indonesia). Karena tidak nyambung dengan sangat terpaksa kami pamit dengan menggunakan bahasa tubuh kami lalu melanjutkan perjalanan ke rumah Bibi. Setelah di rumah bibi ternyata Ibu-ibu itu mendatangi kami dan mengajak kami berbicara kembali. Kami sangat bingung harus menjawab apa. Yang bisa kami lakukan hanya tersenyum dan mengangguk-ngangguk saja karena tidak mengerti sedikitpun bahasanya. Akhirnya teman saya yang bernama Johan (Pernah tinggal disini sebelumnnya selama 3-4hari) memberitahukan tuan rumah yaitu Bibinya Samsul tentang keberadaan Nenek itu. Keluarlah Bibi dan mengajak berbicara dengan Nenek itu. Setelah lama berbicara akhirnya nenek itu pulang ke rumahnya sedangkan bibi langsung masuk ke rumahnya juga mungkin karena bingung mau ngomong apa dengan kami apalagi dia juga tidak pandai berbahasa Indonesia. Satu-satunya bibi yang pandai dan pernah tinggal di Bekasi tinggalnya tidak bersama kami tapi di rumahnya. Ada hal yang menarik ketika kami ngobrol di teras, malam itu sangat sepi tiba-tiba terdengar suara perempuan ketawa panjang entah dari mana asalnya kami terdiam sejenak dan saling bertanya. Ya tentu saja kami disambut oleh mahluk berdimensi lain. Mungkin semacam kuntilanak. Tapi karena kami cuek dan terus melanjutkan obrolan dan dengan sendirinya suara itu hilang. Setelah itu datanglah Samsul dan Gumilang. Hawa diluar pada malam hari dingin namun pada siang hari berbanding terbalik.

Keesokan harinya kami bercerita ke Bibi dengan di terjemahkan ke bahasa Madura oleh Samsul. Kata Bibi hal itu sudah biasa terjadi disini dan bukan suatu hal yang aneh lagi. Dan benar saya hal itu terjadi dimalam-malam berikutnya tapi dengan kejadian yang lain. Seperti Bibi yang ditiup telinganya ketika sedang membuat sambel dan bumbu didapur pada malam hari, Bibi yang mencium bau aneh di dapur. Dan anehnya kejadian aneh justru menimpa tuan rumahnya sendiri untuk kami hanya disambut diawal saja. Kami menceritakan juga tentang ibu-ibu yang datang pada malam hari, kata bibi, ibu itu bertanya soal maksud tujuan kedatangan kami kesini untuk apa? Apakah untuk membantu keluarga yang ditinggal(Meninggal) untuk bantu-bantu? Karena disini kalo ada yang meninggal pasti banyak kerabat yang datang untuk sekedar mengirim doa bersama (Tahlil) sedangkan untuk perempuannya memasak untuk orang-orang yang berdoa tersebut. Anehnya ketika kedatangan kami ke Desa itu orang yang meninggal selalu terjadi setiap harinya sampai mencapai jumlah 8 orang (sesuai jumlah personil kami 8 orang termasuk Nico). Tapi kami selalu berusaha berpikir positif saja, hal itu diperkuat dengan pendapat Bibi tentang kematian. “Biasanya kalau disini kalau ada yang meninggal satu kadang suka disusul meninggal oleh orang lain” entah kenapa hal itu kadang terjadi disini. Jadi hal biasa.

Jalanan Berbatu
Pagi menjelang siang kami berjalan menyusuri jalan setapak. Terdapat sawah-sawah, sungai kecil (saya lebih suka menyebutnya kali), ternak sapi warna merah kecoklatan (katanya sapi khas madura), sumur-sumur disawah. Kontur tanahnya sendiri naik turun atau berbukit-bukit (orang sana bilang Gunung). Kami berjalan menuju SD. Ketika memasuki SD kami dikejutkan dengan kondisi SD yang apa adanya. Walaupun Siswa-siswinya sudah menggunakan seragam sekolah dan membawa sekolah namun alas kaki mereka ketika bersekolah hanya menggunakan Sendal Jepit. Disini kami mempelajari kondisi sekolah yang nantinya akan kami jadikan lokasi untuk syuting Tugas Akhir. Tidak lama setelah mengecek lokasi sekolah, kami pergi kerumah paman Samsul. Kami berniat untuk meminjam mobil Paman Samsul untuk pergi ke lokasi Pasar Tradisional. Kami berjalan kaki melewati jalan berbatu, ketika melewati persawahan terdapat beberapa ibu-ibu yang sedang menanam padi yang melihat ke gerombolan kami yang mungkin cukup menonjol bagi mereka, terlihat sekali bahwa kami adalah pendatang. Mereka melihat kami sambil bercakap-cakap dengan ibu-ibu lainnya. Mungkin mereka bergosip atau apalah.hehe..

Dalam perjalanan menggunakan mobil pickup/losbak kami berhenti disebuah pasar tradisional di Tanah Merah. Disini pasar buka setiap hari (Nanti akan saya bahas tentang hari Pasar) Pasar ini cukup besar dan cukup strategis tempatnya karena terletak tepat dijalan besar (Bisa diakses dari mana-mana). Tapi pasar ini bukan tujuan hunting lokasi kami tapi disini kami berniat berbelanja topi.hehe. di Pasar ini terdapat banyak pedagang. Teman saya berbelanja tembakau rokok disini dijual oleh ibu-ibu. Tembakau yang dijual berbentuk seperti keset yang ada dirumah-rumah (biasanya bertulisan Welcome). Dijual perkilo dengan harga bervariasi sesuai kualitas tembakaunya. Disisi lain ada orang-orang yang berjualan sapi-sapi khas Madura, Sapi disini berwarna Merah kecoklat-coklatan. Sebenarnya kami mencari topi yang berbentuk seperti topi koboy yang biasa dipakai orang-orang Madura terutama ketika Karapan Sapi berlangsung, tapi kami menemukan topi yang terbuat dari bahan semacam dari daun pandan (entah apa nama bahannya) kata orang sih topi ini biasanya digunakan untuk bersawah. Tapi kami senang, kami pakai mengelilingi pasar. Orang-orang memandang aneh sambil tertawa-tawa mungkin mereka pikir kami adalah turis yang norak, masa topi buat ke sawah dipake di Pasar tapi cuek ajalah yang penting hati kami senang.hehe karena tengah hari bolong akhirnya kami memutuskan untuk mencicipi sate Madura yang tentu saja pake daging sapi. Sate yang kami makan seharga Rp.20.000 namun kami tawar hingga Rp.15.000 per porsinya. Satu porsi hanya terdapat 5 tusuk sate sapi dengan daging tebal. Eit jangan berkecil hati lho walaupun sedikit bumbunya cukup memanjakan lidah selain itu nasi yang di berikan seperti gunung alias porsi besar. Cukup banget buat bikin perut kenyang.

Setelah itu kami meneruskan perjalanan dengan mobil pick up kami menuju lapangan karapan sapi yang berada di tanah merah. Disana terdapat lapangan karapan yang terlihat sudah jarang digunakan namun ini terlihat dari rumput yang tumbuh lebat cukup tinggi. Kami disini bersantai sambil mengecek lokasi syuting kami nantinya. Setelah itu barulah kami ke pasar tradisional.

Pasar tradisional disini hanya buka pada hari Rabu (Hari Pasar) selain hari itu tidak ada yang berdagang di Pasar ini. Kalaupun ada hanya hari Sabtu itupun tidak selengkap hari Rabu. Hari pasar memang masih berlaku didaerah ini setiap kecamatan punya hari pasar yang berbeda. Wajar saja pada saat hari rabu kondisi pasar sangat ramai. Biasanya banyak banyak ibu-ibu yang membawa belanjaannya (bisa menggunakan baskom, ember, dsb) yang diangkat diatas kepala (Songghuy, Nyongghuy). 

Sayang sekali saya tidak banyak bertanya tentang kebiasaan yang unik ini namun menurut pengertian yang saya baca, kebiasaan ini mempunyai semacam falsafah hidup yang mana orang Madura menjunjung tinggi orang lain, maksudnya menghormati orang lain. Tidak berarti rendah diri tapi lebih ke rendah hati. Begitulah menurut keterangan yang saya baca. Setelah mengecek lokasi pasar dan mencari info soal perijinan. Tidak ada satupun petugas disana yang ada hanyalah seorang penjual warung dan warga sekitar yang kami tanyai.

Setelah dari pasar kami memutuskan untuk kembali ke rumah dan mengembalikan mobil pick up yang kami pinjam. Karena tidak baik kalau masih keluyuran malam hari, bagaimanapun mitos rawan disini pada malam hari masih sering terjadi. Makanya kami tidak mau mengambil resiko.

Contoh tanpa ventilasi
Setelah sampai dirumah kami langsung bergiliran mandi dan sudah disiapkan makan malam oleh Bibi. Secara pribadi makanan di Madura (masakan Keluarga Samsul) masih cocok dengan lidah saya yang cenderung banyak asin dibandingnkan manis. Terutama sambalnya sungguh lezat (bikin ngiler). Tapi ada satu hal yang mengganjal hati saya secara pribadi, kenapa rumah-rumah di Madura tidak punya Ventilasi??? Yang ada hanyalah jendela utama dan jendela kecil diatasnya (yang harusnya sebagai ventilasi) jadi ketika kita berada dikamar berasa sekali pengapnya apalagi dihuni oleh banyak orang. Untung saja bangunan rumahnya cukup tinggi jadi masih menyimpan persediaan udara.hehe kata temen saya ventilasi sengaja tidak dibuat karena orang Madura mempunyai Falsafah hidup bahwa “Aib keluarga itu hanya milik keluarga, tidak boleh ada yang tahu selain keluarga sendiri” tapi benar atau tidaknya saya sendiri belum tahu pasti. Tapi saya berusaha menghormati itu.

Keesokan harinya setelah sarapan pagi dan mandi kami berjalan kaki menuju rumah Paman untuk kembali meminjam Mobil Pick up nya. Setelah itu kami melaju menuju sebuah Puskesmas dan meminta ijin untuk kami jadikan sebagai lokasi syuting kami juga namun si pemilik puskesmas tidak berada ditempat. Setelah itu kami berjalan menuju UPT, semacam badan yang mengurusi segala macam yang berhubungan dengan belajar mengajar. Tujuan kami disini adalah mengurus perijinan akan menggunakan SD sebagai tempat syuting kami. Untung saja mereka menyambut niat kami. Mereka mengijinkan dengan senang hati selama itu untuk kegiatan positif bagitupun kami injin ke kantor kepolisian yang ada di Bangkalan, Mereka menyambut baik kami.

Setelah itu kami meluncur ke Air mata ibu. Hujan mulai turun untung saja mobil pickup kami menggunakan tutup terpal dibelakangnya. Sebelum masuk ke tujuan kami, kami mampir kesebuah warung makan, saya gak tau namanya. Mungkin kalo di kampong saya semacam lotek atau karedok. Tapi dengan bumbu Madura. Secara pribadi makanan ini tidak cocok dilidah saya karena bumbu yang disajikan bertekstur seperti tanah ketika menyentuh lidah kita. Tapi teman saya asal Surabaya sangat menyukainya sampai nambah 2x padahal saya tidak habis.

Bukit Batu Berpola seperti Candi
Ada sebuah tempat yang unik, Sebenarnya adalah sebuah tempat yang digunakan untuk menambang batu yang digunakan untuk membangun rumah sebagai pengganti batu bata. Bentuk cetak kotak-kotak cetakan membentuk suatu pola yang unik di dinding batu. Seperti sebuah candi. Kami berjalan kedalam bertemu beberapa warga sekitar namun sejujurnya saya sendiri khawatir dan mungkin teman-teman lainpun demikian. Saya tidak tahu ini termasuk legal atau illegal. Penambangan batu disini memang membantu masyarakat sekitar dalam mendapatkan mata pencaharian. Tapi disisi lain menurut saya kegiatan ini sangat berbahaya karena beresiko tertindih batu. Dengan resiko besar mereka tetap bekerja keras disana. 


Semangat yang luar biasa memang. Namun bukan itu yang saya khawatirkan, saya khawatir mereka terganggu dengan kehadiran kami. Saya takut mereka mengira kami adalah semacam LSM yang sedang menyelidiki tentang penambangan batu ini atapun orang asing yang berniat buruk dengan warga sekitar penambangan tersebut. Maka dari itu, setiap kami bertemu dengan para penambang kami berusaha membangun komunikasi tentang tujuan kami. Tapi tidak menjelaskan untuk mencari lokasi syuting karena bakal timbul pertanyaan-pertanyaan untuk apa tujuannya? Takutmya mereka tidak percaya kalau kami menjelaskan untuk Tugas Akhir Kampus. Akhirnya kami menjelaskan ingin berfoto-foto saja. Karena secara produksi tempat ini adalah lokasi tentative yang nantinya digunakan.

Seorang Warga sedang Mencetak Batu
Dihari berikutnya kami mengunjungi beberapa rumah klebun sesuai lokasi yang kita gunakan nantinya sebagai tempat syuting. Untuk sekedar pemberitahuan. Tiga hari berlalu sampai tibalah hari keempat hari dimana teman-teman harus kembali ke Surabaya karena akan pulang ke Jakarta sedangkan saya dan Samsul masih akan tetap tinggal disini karena masih punya kewajiban untuk mencari pemain dan memberikan beberapa surat ijin yang pada hari sebelumnya belum bertemu dengan yang bersangkutan (yang punya wewenang). Kami berjalan kaki sekitar 9 orang karena ditambah Bibi dan Keponakan Samsul yang perempuan. Dijemput sebuah mobil yang sudah berada di ujung jalan aspal. Maka tepatlah kami 10 orang didalam mobil (termasuk pemilik mobil).

Diperjalanan menuju Surabaya, kali ini kami melewati jalur Jembatan Suramadu. Sebuah jembatan yang menghubungkan antara Madura dengan Surabaya diatas Laut. Anginpun cukup kencang tapi itulah jalan yang memang sengaja dibangun untuk memudahkan masyarakat jika akan masuk atau keluar dari Madura sebagai alternative selain naik Kapal Feri.

Hari berikutnya adalah hari dimana saya dan Samsul melanjutkan kegiatan di Madura. Saya mulai berusaha menjalin komunikasi dengan Bibi dan Keponakan Samsul. Saya sedikit demi sedikit belajar bahasa Madura (Bangkalan). Disuatu malam saya ditinggal tahlilan oleh Samsul. Saya sengaja Ijin tidak ikut karena belum terbiasa dengan warga sekitar.hehe dari situ tiba-tiba Bibi berusaha mengajak saya berbicara Bahasa Indonesia dengan bahasa terbata-bata dan lebih banyak dicampur dengan bahasa Bangkalan sendiri. Namun atas bantuan Rita (keponakan Samsul) yang bisa berbahasa Indonesia, Seorang gadis kecil kelas 5 SD, Akhirnya kami bisa berkomunikasi dengan lancar. Disitu Bibi menanyakan tentang siapa saya dan bagaimana kehidupan saya di Jakarta. Layaknya sedang berkenalan saya pun bertanya-tanya tentang kehidupan sekitar. Kata Bibi, di Bangkalan ketika musim kemarau air bisa benar-benar kering. Orang di Desa kesulitan dapatkan air. Bahkan diantara mereka ada yang sampai rela membeli air dengan harga hingga jutaan rupiah. Hmmm…Miris ya...

Makanan Sederhana yang selalu menggoda Selera saya.hehe
Bahasa Madura khususnya di Bangkalan termasuk bahasa yang kasar tidak sehalus di Pamekasan dan di Sumenep. Saya sendiri lebih suka bahasa bangkalan karena dialeknya lebih cuek dan tidak bertele-tele sehingga terkesan tegas. Walaupun kadang-kadang satu kata memiliki beberapa makna namun saya lebih menyukainya. Dibandingkan bahasa Madura yang ada di Sumenep yang pengucapannya seperti berirama atau mendayu-dayu dan lebih sulit diikuti, tapi bukan berarti jelek ya. Maksud saya lebih ke rasa cocok atau tidaknya aja. Perbandingan ini saya rasakan ketika saya selama dua hari menginap di rumah teman saya yang juga teman di Kampus. Bahasa Sumenep berbeda dengan bahasa di Bangkalan. Tapi kecenderungan bahasa Madura yang ada di Televisi, Film, Lagu dan sebagainya lebih cenderung ke Bahasa Madura yang ada di Sumenep. Mungkin karena bahasanya yang halus (kata orang Madura). Kalau di Sunda mungkin Sumenep adalah Bandung (Sunda Halus-Madura Halus), Kalau di Jawa bisa dibilang seperti Solo atau Surakarta (yang punya bahasa jawa halus).

Suatu malam, Saya diantar Samsul untuk membeli Kopi khas Madura (entah khas atau enggak yang jelas dijual Desa yang kami tinggali dan dikemas dalam kemasan plastic bening setengah kiloan). Harga nya kalau tidak salah sekitar Rp.5.000 per setengah kilo. Disitu saya membeli 1Kg. Saya rasa kalau mampir ke daerah mana aja coba deh rasain kopi nya. hehe oya kami bertemu dengan Paman Samsul di warung membawa senjata tradisional khas Madura, Apalagi kalau bukan cerulit. Kata Paman disini kalau malam emang harus bawa supaya bisa berjaga-jaga (perlindungan diri). “Gimana kalau tiba-tiba lewat sawah terus ketemu ular? Makanya butuh alat buat berjaga-jaga” saya tidak tahu makna ular disini itu ular sesungguhnya ada mempunyai makna lain. Tapi yang jelas bentuk cerulitnya gede dan agak tebal berwarna silver tajam. Ngeri tapi unik sih.. boleh juga tuh buat pajangan di rumah.hehe

Saya juga menginap di Sekretariat Bersama (SekBer), Universita Trunojoyo Madura (UTM) yaitu di Basecamp nya UKM Nanggala. Disana saya dan Samsul disambut dengan baik. Kami saling bercerita satu sama lain terutama tentang Madura. Sampai malam hari saya tetap ngobrol dengan teman baru saya yang bernama Nazihil dan Edy. Saya pun menunjukan hasil karya Film, Video klip, dan Video-video yang pernah kami buat bersama teman-teman. Mereka menyukainnya. Disitu terbakarlah semangat mereka untuk membuat film. Semangat ini sangat disayangkan karena keterbatasan waktu kami yang tidak tepat yang mana banyak hal yang harus kami lakukan di Madura. Kalaupun saya punya banyak waktu saya akan dengan senang hati menjadi teman sharing untuk membuat film pendek atau sekedar menjadi teman sharing. Keesokannya kami pulang ke Bangkalan karena harus melanjutkan aktivitas lain. Seperti ke Pasar Tradisional untuk menemuai kepala pasar, ke rumah klebun-klebun, dan juga ke kantor polisi. Selain itu kami juga harus mencari pemain di Bangkalan (terutama di Desa Banyuning Laok). Agar lebih memudahkan proses Reading dan Rehearsal ke pemain sebelum syuting. Akhirnya kami menemukan beberapa pemain untuk peran bapak. Sedangkan untuk pemain remaja dan pemuda kami ambil dari teman-teman teater di kampus Trunojoyo. Di kampus itu kami datang untuk kedua kalinya disana kami mengadakan open casting kepada temen-temen UKM Teater dari berbagai Fakultas. Selain itu kami juga dibantu oleh beberapa dosen dari fakultas Ilmu Budaya.

Dimalam berikutnya kami dipertunjukan pagelaran Teater dari UKM Nanggala yang diadakan di Taman Kampus UTM. Menarik sekali pertunjukannya karena sebelum pertunjukan ada semacam ritual khusus entah untuk apa kegunaannya yang jelas biasanya setiap kali mengadakan pagelaran biasanya peserta ada yang sampai kesurupan. Tapi malam itu pertunjukan berjalan lancar sampai selesai.

Keesokan harinya. Kami kembali ke Banyuning Laok karena mendapat kabar bahwa ada orang yang meninggal lagi yaitu orang yang ke-delapan (sebelumnya sudah dibahas tentang 8 orang yang meninggal). Disitu kami berpamitan pulang. Perjalanan kami tempuh dengan menggunakan motor yang kami pinjam dari Paman Samsul yang lain. Motor ini kami gunakan selama teman-teman lain sudah pulang ke Jakarta.

Sapi Karapan didalam Kandang
Hari semakin berlalu kami berniat pergi ke Sumenep (sudah sedikit dibahas diatas). Disana saya dan Samsul tinggal di rumah teman yang merupakan senior kami di kampus, bernama Badrus. Hanya saja Badrus tidak pulang ke Sumenep. Kami hanya ditemani keluarga Badrus. Kami disambut baik oleh keluarganya. Niat kami ingin mencari pemain Karapan sapi. Pemain karapan sapi tidak sembarang orang. Pemain karapan sapi atau lebih sering disebut Joki, biasanya adalah seorang anak kecil usia SD atau SMP. Pemilik karapan sapinya sendiri tentu saja orang ‘berada’ karena untuk perawatan sapinya saja harus mempunyai perlakuan khusus misalnya setiap hari diberi jamu berupa telor ayam hingga puluhan butir bahkan ada sampai ratusan. Belum lagi yang lain-lain. Kata orang yang saya temui, “kalau dulu Karapan Sapi digunakan oleh siapapun termasuk para Petani untuk sekedar hiburan rakyat. Saat ini Karapan Sapi itu untuk orang-orang yang berduit”. Joki sendiri sudah jarang, kebanyakan Joki itu berasal dari Pulau Sapudi yang mereka sewa untuk menjadi Joki. Setiap ada pagelaran Karapan Sapi mereka selalu mendatangkan Joki dari Pulau Sapudi (Talent untuk joki kami ambil yaitu joki asli karena untuk jadi joki harus memiliki kemampuan khusus. Pendekatan Neorealisme yaitu menggunakan pelaku asli untuk memerankan sebuah peran) Hanya sedikit Joki yang terdapat di Bangkalan, Pamekasan, Ataupun Sumenep. Lebih terbilang tidak ada karena hanya bisa dihitung dengan jari. Maka dari itu kami berkunjung ke Sumenep untuk mencari informasi tentang keberadaan Joki namun hal yang tidak diinginkan terjadi. Kondisi kesehatan saya tidak mendukung. Badan saya tiba-tiba demam. Mata kiri saya merah. Saya dianjurkan berobat ke Bidan oleh keluarga Badrus. Saya menurut saja yang penting bisa sehat kembali. Saya relakan bagian badan saya di suntik. Katanya saya kelelahan dan harus istirahat. Dari situ saya kembali ke rumah akhirnya saya tidur seharian dirumah. Hari kedua kondisi badan saya belum pulih. Pencarian kami di Sumenep agak terganggu karena beberapa factor termasuk masalah kesehatan saya. Disitu saya meminta ijin ke Samsul untuk pulang di hari berikutnya (sesuai planning awal semasa dijakarta, kemungkinan saya pulang duluan). Sebenarnya gak tega ninggal Samsul sendiri atau tidak menemaninya selama di Madura tapi toh ini kampung halamannya walaupun dia sendiri masih terbilang asing di kampung halaman sendiri karena lebih banyak tinggal di Bekasi. Untuk joki sendiri akhirnya didapat setelah adanya pagelaran acara karapan sapi di daerah Pamekasan (saya sudah pulang ke Jakarta). 
Ibu Penjual Tembakau


Pasar Sapi di Pasar Tanah Merah


Rumah tempat kita Tinggal selama di Madura

Ilustrasi Orang Madura Bawa Barang di Kepala


Saya pulang di antar menggunakan motor ke Stasiun Gubeng, Surabaya. Naik kereta Gaya Baru Malam dengan harga tiket Rp. 110.000, Jurusan Gubeng (SBY)-Pasar Senen (JKT). Dari pengalaman yang saya dapatkan selama berada di Madura. Saya mendapatkan banyak pengalaman baru yang menarik. Itulah gunanya berkunjung ke Daerah lain, kita bisa tahu tentang sisi lain dibelahan dunia lain walau masih dengan skup kecil (Masih Indonesia). Intinya mitos yang menyeramkan tentang Madura bisa kita antisipasi dengan berbagai cara. Seperti pentingnya berkomunikasi dengan warga sekitar. Niat Baik akan disambut dengan Baik pula. Selamat berpetualang di Madura. Sampai bertemu lagi di Madura bulan Juni 2015 (Syuting). 
Previous
Next Post »

4 comments

  1. Replies
    1. Hehe iya mas.. wajib nyicipin deh kalo ke Madura

      Delete
  2. ingat madura itu malah kebayang bebek maduranya :D.. Enaakkk... di bekasi bnyk warung2nya... bumbu coklatnya itu loh yg pedeees gurih ;)..Makanya jd pensaran coba lgs di daerahnya

    ReplyDelete

Halo, Terima kasih sudah membaca blog ini. Silahkan tinggalkan komentar anda disini.

Popular